Menelisik Industri Sepatu New Fajar di Kota Solok

Komitmen Pemerintah Kota Solok untuk menggairahkan usaha kecil dan menengah, guna meningkatkan perekonomian warganya, dibuktikan dengan munculnya berbagai home industri. Di antaranya industri sepatu rumahan dengan brand “New Fajar” yang berdiri sejak 1955, mampu bertahan menghadapi berbagai perubahan.

Sekalipun dirintis cukup lama, industri sepatu yang semula menggunakan brand “Fajar” ini mengalami pasang surut terkait dengan situasi perekonomian. Namun di era 1980-an industri ini sempat menguasai pasar sepatu di Kota Solok bahkan konsumennya datang dari beberapa daerah yang ada di Sumatera Barat.

Menurut Firdaus, usaha yang dirintis oleh kakeknya, Agahar Datuk Indo Rajo Alam ini, dulunya memiliki pelanggan yang cukup banyak, di antaranya kalangan pejabat Kota dan Kabupaten Solok , Kota Sawahlunto, dan Kabupaten Sijunjung. Pada umumnya konsumen industri sepatunya adalah dari kalangan yang membutuhkan model dan kualitas.
“Kita memproduksi sesuai dengan permintaan konsumen, termasuk juga dengan bahannya. Konsumen bisa memilih langsung bahan yang cocok dengan seleranya,” ujar Firdaus.

Namun sejak awal 2017, Firdaus mulai berpikir untuk dapat lebih berkembang dan maju dengan berbagai inovasi dan kreatifitas untuk mendongkrak industri sepatu yang tengah dikelolanya. Apalagi semenjak Wakil Walikota Solok, Reinier, ST, MM. langsung menemui Firdaus dan mendorong agar industri sepatu yang dikelolanya mampu berkembang dan tidak berproduksi berdasarkan pesanan saja.

“Akhirnya, kami mulai bergairah kembali, apalagi Pemerintah Kota Solok meluncurkan program Karya Cipta Solok (KCS) di tahun 2017, dengan memproduksi 10.000 sepatu untuk siswa. Kami dapat kebagian memproduksi 5.000 sepatu,” tuturnya.

Dia mengakui semenjak dorongan yang begitu kuat dari Pemerintah Kota Solok melalui Wakil Walikota Solok, Reinier. Firdaus melakukan langkah-langkah yang lebih inovatif untuk memproduksi sendal dan sepatu wanita dengan berbagai varian, sepatu siswa, sepatu pria dengan model-model yang lebih elegan. Namun New Fajar tetap melayani pesanan seperti gaya bisnis yang dirintis oleh kakeknya.

Industri sepatu “Fajar” yang bangkit dengan brand “New Fajar” kembali eksis, konsumennya tidak hanya dari Kota Solok. Pelanggan yang dulunya sempat menghilang kini kembali, karena rata-rata pelanggan industri sepatu yang dikelola Firdaus ini merupakan konsumen yang membutuhkan kualitas.

“Tapi program KCS (Karya Cipta Solok) terus kami kembangkan, bahkan dengan kualitas terbaik. Agar para siswa di Kota Solok dan Kabupaten Solok tidak lagi menggunakan produksi dari luar,” ujar Firdaus.

Sementara Wakil Walikota Solok Reinier mengatakan, bahwa di jaman globalisasi seperti sekarang, industri dipercaya sebagai sebuah instrumen penting yang dapat memenuhi segala kebutuhan masyarakat. Dengan dalil itulah, industri yang menyangkut kebutuhan masyarakat luas tercipta dan terus dikembangbiakkan keberadaannya. Hingga kian hari, ia terus merebak menjadi serupa prajurit tempur yang siap dan terus menggerus peran manusia.

Industri kecil, seperti yang dibangun oleh New Fajar keberadaannya tidak luput dari persaingan ketat. Belum lagi keberadaan industri besar modern kini merambah ke setiap sendi kehidupan masyarakat, suka atau tidak, akan melahirkan sebuah pradaban baru. Maka konsekuensi logis yang harus diterima adalah; pradaban lama (tradisional) akan terkikis dan kemudian hilang digerus laju jaman. Begitulah sepertinya hukum alam berlaku.

“Industri sepatu New Fajar harus mampu membentengi dirinya dari serangan pradaban baru, dengan terus berinovasi untuk mengikuti tren agar ia tidak tertinggal dari produk modern,” ujarnya.

Reinier berharap, industri sepatu New Fajar, agar terus berkembang sesuai dengan jamannya. Memproduksi sepatu sesuai selera konsumen namun tetap mempertahankan kualitas yang sudah menjadi ciri New Fajar sejak lama. Bahkan Wakil Walikota Solok ini mendorong New Fajar untuk memasarkan produknya di beberapa toko sepatu yang ada di Kota Solok, Kota Sawahlunto, Sijunjung, Dharmasraya, dan kota-kota lainnya di Sumatera Barat.

“Setidak-tidaknya, secara pemasaran bisa diukur sejauh mana minat konsumen terhadap sepatu yang diproduksi oleh New Fajar. Apabila minat konsumen meningkat, tidak tertutup kemungkinan New Fajar membangun pabrik sepatu,” kata Reinier.

Peluang untuk terus berkembang itu ada, kata Reinier. Karena pemerintah Kota Solok tengah membangun dan mengembangkan home industri guna menggenjot perekonomian warga yang cenderung melemah. Apalagi wacana membangun pasar grosir yang tersegmen semakin mendesak untuk segera di wujudkan, agar Kota Solok tidak selalu menjadi kota perlintasan, namun berubah status menjadi kota tujuan.

New Fajar, salah satu home industri yang terus dibina oleh Pemerintah Kota Solok melalui Dinas Koperindag, maka Reinier mengharapkan manajemen New Fajar terus diperbaiki agar mampu menghadapi tantangan yang akan terjadi pada suatu saat nanti.

“Kita butuh home industri itu hidup dan berkembang, guna menyerap tenaga kerja dan memperkecil angka pengangguran,” pungkas Reinier.