Silek Tuo Pengikat Antar Nagari

Silek Tuo adalah versi silek paling tua. Gerakan silek itu diambil dari berbagai macam hewan yang ada di Minangkabau, contohnya Silek Harimau, Kucing dan Silek Buayo (Buaya).

Namun dalam perkembangannya, ada sasaran silek, umumnya silek yang berasal dari kalangan tarekat atau ulama menghilangkan unsur-unsur gerakan hewan di dalam gerakan silek mereka, karena dianggap bertentangan dengan ajaran agama Islam. Karena orang Minang menganut falsafah Alam takambang jadi guru .

Falsafah itu merupakan konsep universal dari budaya alam Minangkabau. Kata “alam”, berasal dari bahasa Sanskerta artinya sama dengan lingkungan kehidupan atau daerah. Konsep ini juga diterjemahkan oleh para pendiri silat pada masa dahulunya menjadi gerakan-gerakan silat. Antara silat dan produk budaya lain di Minangkabau adalah satu kesatuan filosofis, jadi untuk menerangkan silat, pepatah-pepatah yang biasa diucapkan dalam upacara adat bisa digunakan.

Setiap nagari memiliki sasaran silek, ini adalah suatu keharusan. Ibarat sebuah negara, tidak mungkin tidak memiliki angkatan perang. Konsep nagari itu sama dengan konsep sebuah negara. Hubungan antara nagari dengan nagari lainnya sama halnya dengan hubungan antar negara.

Alam Minangkabau adalah kesatuan pengikat antar nagari bahwa mereka merupakan satu konsep budaya. Secara budaya, yang dinamakan masyarakat Minangkabau mengaku berasal dari Gunung Marapi, tepatnya dari Nagari Pariangan, Sumatera Barat, yakni suatu tempat yang disebut sebagai sawah gadang satampang baniah (sawah luas, setampang benih).

Dari nagari itulah benih kebudayaan yang setampang digagas, disusun dan kemudian dikembangkan ke wilayah sekitarnya (luhak nan tigo). Oleh karena nagari di Minangkabau tidak ubahnya seperti sebuah republik mini, semuanya lengkap dari wilayah, aparat pemerintah, pertahanan, sampai penduduknya, maka hampir semua nagari memiliki sasaran silek, sehingga variasi dari gerakan-gerakan silat tidak dapat dihindari sama sekali.

Variasi dari gerakan silek terjadi karena rentang waktu yang sedemikan lama dari awal silek itu dirumuskan; Pancarian surang-surang (penemuan baru oleh guru baik disengaja atau tidak); Perbedaan minat; Hasil adu pandapek (hasil diskusi sesama pendekar); dan pengaruh dari beladiri lain Meskipun demikian ada kesamaan konsep dari gerakan silat di Minangkabau. Oleh sebab itu dapat dibedakan antara silat dari Minangkabau dan silat dari daerah lain di kawasan Nusantara.

Beberapa konsep dari silek Minang-kabau itu adalah Tagak jo Langkah (Berdiri dan Langkah). Ciri khas dari permainan silek adalah pola berdiri dan melangkah. Tagak artinya tegak atau berdiri, di mana pesilat berdiri? Dia berdiri di jalan yang benar (tagak di nan bana), dia bukanlah seorang yang suka mencari rusuh dan merusak tatanan alam, dan kehidupan bermasyarakat.

Di dalam mantera sering juga diungkapkan sebagai tegak alif, pitunggua adam, langkah muhammad. Di dalam permainan silat, posisi berdiri adalah pelajaran pertama diberikan, yang dinamakan sebagai bukak langkah (sikap pasang) seorang pemain silat Minangkabau adalah tagak runciang (berdiri runcing atau berdiri serong) dengan posisinya selalu melindungi alat vital. Kuda-kuda pemain silat harus kokoh, untuk latihan ini dahulunya mereka berjalan menentang arus sungai.

Langkah dalam permainan silek Minangkabau mirip dengan langkah berjalan, namun posisinya pada umumnya merendah. Posisi melangkah melingkar yang terdiri dari gelek, balabek, simpai dan baliak.

Pola langkah yang dipergunakan pesilat Minang antara lain langkah tigo (langkah tiga, pola langkah yang membentuk segitiga). Langkah ampek (langkah empat, pola langkah yang membentuk segi empat). Langkah sambilan (langkah sembilan), yang biasanya untuk mancak (pencak).

Di dalam bersilat perlu sekali memahami garak dan garik. Garak artinya insting, kemampuan membaca sesuatu akan terjadi, contoh seorang pesilat bisa merasakan ada sesuatu yang akan membahayakan dirinya.

Garik adalah gerakan yang dihasilkan oleh pesilat itu sebagai antisipasi dari serangan yang datang. Jika kata ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, ia menjadi kurang pas, karena di dalam bahasa Indonesia, gerak itu adalah gerakan dan garik adalah kata pelengkap dari gerakan itu. Sedangkan di dalam bahasa Minangkabau garak (gerak) itu adalah kemampuan mencium bahaya (insting), dan garik (gerik) adalah gerakan yang dihasilkan (tindakan).

Seorang pesilat sejatinya memiliki Raso jo Pareso (Rasa dan Periksa). Raso (rasa) bisa diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan sesuatu gerakan yang tepat tanpa harus dipikirkan dulu, seperti seorang yang mahir membawakan kendaraan, dia pasti tidak berpikir berapa centimeter harus memijak rem supaya berhenti dengan tepat tanpa goncangan, tapi dengan merasakan pijakan rem itu dia dapat berhenti dengan mulus.

Pareso (periksa) adalah kemampuan analisis dalam waktu yang singkat atau nalar. Di dalam pertempuran ungkapan pareso ini adalah kemampuan memanfaatkan sesuatu di dalam berbagai situasi pertempuran, dalam upaya untuk memperoleh kemenangan. Misalkan jika kita bertempur waktu sore, upayakan posisi jangan menghadap ke barat, karena akan silau oleh cahaya matahari.

Jadi antara raso dan pareso itu jalannya berpasangan, tidak boleh jalan sendiri-sendiri. Kita tidak boleh terlalu mengandalkan perasaan tanpa menggunakan pikiran, namun tidak boleh pula berpikir tanpa menggunakan perasaan. Ada pepatah yang mengatakan raso dibao naiak, pareso dibao turun (rasa di baik naik ke alam pikiran, periksa dibawa turun ke alam rasa). Demikianlah kira-kira maksud dari raso jo pareso yang diungkapkan oleh para guru silek.

Alam fikiran Orang Minangkabau memiliki konsep berpasangan. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya pepatah yang memiliki isi kalimat berpasangan, contohnya: mancari nan baik manulak nan buruak (mencari hal-hal yang baik dan menolak hal-hal yang buruk), manitiak dari ateh, mambasuik dari bumi (menitik dari atas, membersit dari bumi), tiok kunci ado pambukaknyo (tiap kunci ada pembukanya) dan tiok kabek bisa diungkai (tiap ikatan bisa dilepas).

Hal yang sama berlaku pada silek, setiap gerakan silat ada pemusnahnya, setiap kuncian ada teknik untuk melepaskannya. Oleh sebab itu sepasang pemain silat yang mahir mampu bersilat terus menerus tanpa putus dengan mengalir begitu saja. Mereka baru berhenti kalau sudah letih atau capek.

Sumber :
Miazudin St. Marajo
dan Sumbar.com