Kawasan Payo Menuju Kawasan Agrowisata di Sumatera Barat

Upaya Pemerintah Kota Solok untuk mengembangkan Kawasan Payo menjadi kawasan agrowisata patut diapresiasi oleh berbagai kalangan. Bahkan kawasan Payo akan dikembangkan melalui pelaksanaan Program Pengembangan Nagari Mandiri Pangan dan Pemerintah Kota Solok pun menargetkan pengembangan kawasan Agrowisata Payo selesai kurang dari 4 tahun.

Namun di balik program yang direncanakan oleh Pemerintah Kota Solok, dan apabila ditelusuri lebih jauh, kawasan Payo sebenarnya memiliki sejarah panjang sebagai sebuah perkampungan tradisional dan merupakan perkampungan adat yang harus dilestarikan sebagai manifestasi hasil cipta, karsa dan karya seni budaya yang ditinggalkan oleh para pendahulunya..

Sejarah membuktikan bahwa penduduk yang berada di kawasan Payo memiliki kemampuan dalam mengekspresikan seni budayanya dalam bentuk karya sebuah perkampungan tradisional yang religius, disamping suasana alamnya yang masih asri, juga ditemukan berbagai tempat yang digunakan oleh masyarakat tradisional Payo sebagai tempat yang sakral, atau tempat masya-rakat tradisional “berkaul”.

Walaupun beberapa tempat yang ada di Payo sudah mengalami perubahan dan kepunahan dari bentuk aslinya akibat proses alam, perjalanan waktu, dan ulah manusia, namun demikian tetap mempunyai nilai sejarah dan daya tarik apalagi untuk tujuan wisata budaya.

Masyarakat tradisional Payo memiliki rasa kebersamaan dan tanggung jawab untuk menjaga dan meneruskan warisan budaya nenek moyang yang masih mewarnai kehidupan masyarakat adat Payo saat ini. Seperti halnya warga Payo menjaga dan merawat benda-benda yang mereka nilai memiliki sejarah dan sakral, seperti Batu Patah misalnya. Namun seiring perjalanan waktu yang begitu panjang dan alkuturasi budaya akibat masuknya pengaruh budaya baru se-hingga mempengaruhi kehidupan masyarakat setempat.

Sayogianya, disamping menjadikan Payo sebagai kawasan Agrowisata, hendaknya perkampungan yang berada di kelurahan Tanah Garam, Kecamatan Lubuk Sikarah Kota Solok ini tetap dipertahankan sebagai perkampungan tradisional. Tempat warga Kota Solok menikmati seni budaya tradisional, seperti Randai, Pencak Silat, Saluang, dan seni tardisional lainnya. Pada saatnya akan berdampak terhadap Pariwisata Kota Solok.

Masyarakat tradisional Payo merupakan po-tensi yang harus dlirik oleh Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kota Solok. Mengingat makin punahnya masyarakat tradisional di tengah perkotaan, sehingga upaya pelestarian dan pengembangan kawasan Payo sebagai perkampungan tradisional perlu dilirik dan dijadikan arena pertunjukan seni budaya tradisional yang ada di Kota Solok.

Majalah Serambi Madinah